MATCHSTICK MEN

Film ini diputar pertama kali tahun 2003 tapi saya sendiri baru tahun 2006 nontonnya. Disarankan nonton filmnya, – bisa nyari DVDnya – bagus koq. Intinya tentang dua orang yang berprofesi sebagai con man/artist (orang yang secara teratur menipu orang lain – Oxford Advanced Learner’s Dictionary). Dominannya film ini menceritakan tentang aksi tipu menipu. Tapi film ini juga menceritakan interaksi antara sang ayah yang seorang penipu dengan seorang cewek yang disangka anaknya. Akhirnya film ini juga menimbulkan keharuan tersendiri.

Film itu begitu berkesan buat saya sehingga saya teringat lagi dengan film itu ketika seorang teman bercerita dengan semangatnya tentang proses yang ditempuhnya ketika mengajukan pinjaman uang di bank. Teman saya menceritakan cara yang dilakukannya untuk “mengakali” proses verifikasi yang dilakukan pihak bank. Di penghujung tahun 2010 saya teringat lagi dengan film itu ketika lagi-lagi seorang teman bercerita dengan semangatnya tentang proses yang ditempuhnya untuk memperoleh kredit pembiayaan rumah. Teman saya yang ini juga menceritakan cara-cara yang dilakukannya untuk “mengakali” proses verifikasi dari pihak bank.

Sekarang mari kita perdalam istilah “mengakali”. Istilah ini sebenarnya bahasa yang memperhalus. Bahasa halusnya dari apa? Saya ambil dua pilihan saja, bahasa halus dari membohongi atau bahasa halus dari menipu. Lalu yang mana yang lebih tepat, membohongi atau menipu?

Dari http://psikologi-online.com/apakah-arti-bohong-itu dijelaskan bahwa arti berbohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak ada dasar realitasnya. Misalnya saja mengatakan turut berduka padahal tidak berduka atau mengatakan memiliki pacar padahal tidak punya. Kebohongan juga bisa diartikan sebaliknya, yakni mengatakan sesuatu yang tidak ada padahal ada dalam realitasnya. Misalnya saja mengatakan tidak memiliki uang padahal punya atau mengatakan tidak cemburu padahal cemburu. Sedangkan menipu biasa digunakan untuk seseorang yang mengatakan sesuatu tidak benar demi meraih keuntungan pribadi. Misalnya mengatakan jam yang dimiliki asli sehingga dijual dengan harga mahal. Padahal sesungguhnya jam tersebut merupakan barang palsu.

Kata ‘bohong’ (kata kerjanya adalah berbohong) cenderung digunakan untuk kasus-kasus yang bernuansa netral dan biasa. Sebaliknya kata ‘tipu’ biasa digunakan pada kasus-kasus yang cenderung menimbulkan kerugian pihak yang dibohongi atau yang ditipu. Misalkan Ita mengatakan akan membayar tunai motor Supra X milik Bejo kurang dari 4 jam dengan nilai Rp. 5 juta. Setelah 4 jam ternyata Ita tidak muncul dan malah melarikan motor Bejo.

Berdasar definisi di atas, ”mengakali” dalam kasus teman-teman saya itu bisa dikategorikan membohongi. Kenapa koq bukan menipu? Karena mereka belum merugikan pihak lawan yang dalam hal ini bank. Coba deh katakan ke teman-teman yang ”mengakali” kalau mereka itu telah menipu, pasti mereka mereka akan mengelak dengan alasan mereka tidak merugikan pihak bank karena mereka nantinya akan membayar cicilannya, jadi ngga ada masalah kan? Iya, tetapi sebenarnya mereka telah berbohong…

Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan teman-teman yang ”mengakali” lho ya… Tulisan ini hanya sebagai refleksi saja. Maka sekarang perlu ditanyakan, mengapa kita mau berbohong? Dinukilkan dari http://psikologi-online.com/apa-sebab-orang-berbohong disebutkan bahwa salah satu alasannya adalah karena berbohong memberikan manfaat kepada kita, baik secara langsung maupun tidak. Jikalau berbohong merugikan kita, kira-kira apakah kita mau berbohong?

Terdapat beberapa manfaat yang bisa diraih jika melakukan kebohongan. Berikut adalah manfaat-manfaat yang mungkin bisa didapat dari melakukan kebohongan dan menjadi sebab seseorang melakukan kebohongan. Coba ingat-ingat mana yang paling sering kita lakukan.

  1. Melindungi kepentingan
  2. Menguntungkan kepentingan
  3. Menimbulkan respon emosional tertentu yang diinginkan
  4. Melindungi dari rasa malu, kehilangan muka, atau terlihat buruk
  5. Melindungi dari ketidaksetujuan
  6. Melindungi dari rasa terluka
  7. Melindungi dari kekhawatiran
  8. Melindungi dari konflik
  9. Melindungi dari ketidaknyamanan
  10. Melindungi privasi
  11. Membuat terlihat lebih baik dari yang sebenarnya
  12. Membuat tampak berbeda dari sebenarnya
  13. Mengatur perasaan, emosi dan mood yang dimiliki
  14. Mendapatkan keuntungan personal bagi
  15. Membuat sesuatu lebih mudah atau lebih nyaman
  16. Membantu mendapatkan informasi yang diinginkan
  17. Membantu mendapatkan apa yang diinginkan
  18. Melindungi dari hukuman fisik
  19. Melindungi aset, properti atau harta
  20. Melindungi keamanan
  21. Melindungi dari kehilangan status atau posisi tertentu
  22. Melindungi dari sesuatu yang mengganggu atau yang tak ingin dilakukan

Kalau mau digali lebih dalam lagi, dalam kasus teman-teman saya di atas, kenapa mereka sampai ”mengakali”? Karena mereka ingin mendapatkan pinjaman uang, karena mereka ingin mendapatkan kredit pembiayaan rumah. Lalu, apakah tidak bisa jika tanpa ”mengakali”? Dalam kondisi teman-teman saya ada beberapa persyaratan yang tidak bisa dipenuhi jika tidak ”mengakali”, seperti tempat tinggal, gaji, dan cashflow rekening koran. Maka sebenarnya yang terjadi adalah karena sangat inginnya memiliki sesuatu yang sebenarnya mereka belum memenuhi peryaratan untuk memilikinya akhirnya mereka ”mengakali”.

Akhirnya, Matchstick Men, apakah seseorang perlu atau terpaksa menjadi con man untuk mewujudkan mimpinya???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: